1. HAKEKAT ORANG BERAKAL

✍🏻 Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata:

ليس العاقل الذي يعرف الخير والشر، إنما العاقل الذي إذا رأى الخير اتبعه، وإذا رأى الشر اجتنبه.

” Seorang berakal bukanlah yang mengetahui kebaikan dan keburukan, tetapi seorang yang berakal adalah sosok yang apabila melihat kebaikan, maka dia mengikutinya dan apabila melihat keburukan, maka dia menjauhinya.

📚 al-Hilyah: 8/33

2. MEMAAFKAN MERUPAKAN KEMULIAAN JIKA IKHLASH KARENA ALLAH DAN MEMBAWA MASLAHAT

✍🏻 Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’dy rahimahullah berkata:

‏العفو عن جنايات المسيئين بأقوالهم وأفعالهم فلا يتوهم منه الذل، بل هذا عين العز، فإن العز هو الرفعة عند الله.

“Memaafkan kejahatan orang-orang yang berbuat buruk dengan ucapan dan perbuatan mereka jangan sampai disalahpahami sebagai kehinaan, bahkan ini merupakan kemuliaan, karena sesungguhnya kemuliaan adalah kedudukan yang tinggi di sisi Allah.”

📚 Bahjatu Qulubil Abrar, hlm. 87

3. TIDAK BOLEH MEYAKINI BAHWA ORANG BEBAS MEMILIH KEYAKINAN AGAMANYA

✍🏻 Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata:

‏الذي يجيز أن يكون الإنسان حر الاعتقاد يعتقد ما شاء من الأديان فهو كافر.

“Orang yang membolehkan agar seseorang bebas keyakinannya untuk meyakini agama yang dia inginkan, maka dia kafir.”

📚 Majmu’ul Fatawa, jilid 3 hlm. 99

Ini bukan berarti boleh memaksa orang lain untuk masuk Islam, namun maksudnya adalah tidak boleh meyakini bahwa orang bebas memilih agama yang dia inginkan, karena itu artinya menganggap bahwa semua agama benar, bukan hanya Islam saja, sehingga hal itu mendustakan ayat-ayat al-Qur’an yang menyebabkan pelakunya kafir. (pent)

4. HANYA ORANG YANG JUJUR IMANNYA YANG MENINGGALKAN MAKSIAT, DI SAMPING MENGERJAKAN PERINTAH ALLAH

✍🏻 Sebagian ulama salaf ada yang mengatakan:

أعمالُ البِرِّ يَعملُها البَرُّ والفَاجِرُ، ولا يقدر على ترك المعاصِي إلَّا صِدِّيقٌ.

“Amal-amal kebaikan bisa dikerjakan oleh orang yang baik dan orang yang jahat, namun tidak ada yang mampu untuk meninggalkan maksiat kecuali orang yang jujur imannya.”

📚 Qaidatun fish Shabr, karya Ibnu Taimiyyah rahimahullah, hlm. 91

5. ILMU YANG BERMANFAAT UNTUK ORANG LAIN LEBIH UTAMA DIBANDINGKAN IBADAH YANG TIDAK WAJIB

✍🏻 Abdul Karim bin Abi Umayyah rahimahullah berkata:

لأن أرد رجلا عن رأيٍ شيّنٍ أحب إليّ من اعتكاف شهر.

“Sungguh saya membuat seseorang bertaubat dari sebuah pendapat yang buruk (penyimpangan), hal itu lebih saya sukai dibandingkan i’tikaf selama sebulan.”

📚 Al-Bida’ wan Nahyu Anha, hlm. 33

6. KEJERNIHAN DAN KESUCIAN TAUHID

✍🏻 Al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata:

التوحيد ألطف شيءٍ، وأنزهه، وأنظفه، وأصفاه، فأدنى شيءٍ يخدشه، ويدنّسه، ويؤثّر فيه، كأبيض ثوبٍ يؤثّر فيه أدنى أثر.

“Tauhid adalah sesuatu yang paling lembut, paling suci, paling bersih, dan paling jernih, jadi benda yang paling kecil akan mengoyaknya, menodainya, dan menimbulkan bekas padanya, seperti baju yang paling putih yang sesuatu yang paling kecil akan meninggalkan bekas padanya.”

📚 Al-Fawaid, hlm. 233

7. SABAR TERHADAP KEZHALIMAN PEMERINTAH HUKUMNYA WAJIB

✍🏻 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

الصبرُ على جور الأئمة أصل من أصول أهل السنة.

“Bersabar terhadap ketidakadilan para penguasa merupakan salah satu prinsip pokok Ahlus Sunnah.”

📚 Al-Fatawa al-Kubra

8. SYARAT TOBAT

📬 Pertanyaan: Jika seorang muslim mencabut diri dari dosa-dosa yang dahulu dia lakukan, apa saja syarat yang harus dipenuhi terkait orang yang bertobat dari sebuah dosa?
Apa nasihat Anda untuk orang yang melakukan kemaksiatan agar dia bisa bertobat sebelum datang ajalnya sehingga dia merugi dan menyesal?

🔓 Jawaban:

1. (a) Seseorang bertobat dengan tobat yang jujur dan tulus,
(b) menyesali dosa yang telah dilakukan,
(c) bertekad kuat untuk tidak mengulanginya
(d) jika dosanya terkait dengan sesuatu yang bisa dikembalikan seperti harta, dia kembalikan kepada pemiliknya. Jika tidak terkait dengan sesuatu yang bisa dikembalikan, dia meminta maaf dan kemurahan dari pihak-pihak yang dizhalimi, disertai doa kebaikan untuk mereka dan pujian terhadap kebaikan mereka yang dia ketahui.

2. Kami nasihatkan agar dia:
(a) membaca al-Qur’an hadits-hadits tentang targhib (anjuran berbuat kebaikan) dan tarhib (ancaman atas perbuatan dosa)
(b) mengingat negeri akhirat dan berbagai keadaan yang menakutkan,
(c) bergaul dengan orang-orang yang baik dan menjauhi orang-orang yang buruk

☝🏻 Semoga Rabbnya akan menerima tobatnya dari dosa dan mengampuninya, dan dia bisa menolak bisikan dan nafsunya yang mengajak kepada maksiat.

Wa billahit taufiq, wa shalallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa alihi wa shahbihi wa sallam

✍🏻 Ketua : Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz
Wakil Ketua : Abdurrazaq Afifi
Anggota : Abdullah bin Ghudayyan, Abdullah bin Qu’ud.
(Fatawa al-Lajnah 24/297-298 pertanyaan ke-6 dari Fatwa no. 3866)

📚 Sumber: Majalah Asy Syariah Edisi 113/Vol X/1437H/2016M

9. BOLEHKAH MENDENGARKAN BERITA YANG DIIRINGI OLEH MUSIK

✍🏻 Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah

📬 Pertanyaan: Fadhilatus Syaikh –semoga Allah memberi taufik kepada Anda– ada banyak pertanyaan yang intinya satu tema, yaitu telah beredar pada hari-hari ini fatwa tentang bolehnya musik yang sedikit yang mengiringi berita dan program/software tertentu karena hal itu tidak akan mempengaruhi syahwat, bagaimana pendapat Anda tentang fatwa semacam ini?

🔓 Jawaban: Nabi shallallahu alaihi was sallam telah mengharamkan alat-alat musik dan seruling dan para ulama juga telah berijmak atas perkara tersebut, sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.

❌ Jadi tidak boleh seorang pun untuk mengecualikan sedikit pun darinya dan tidak boleh juga untuk mengkhususkan sesuatu pun dengan menganggapnya boleh. Rasul shallallahu alaihi was sallam melarangnya dan mengharamkannya, sehingga tidak boleh hal semacam ini. Tidak ada sedikit pun yang halal pada musik, demikian juga tidak ada sedikit pun yang halal pada alat-alat musik dan alat-alat yang sia-sia.

📚 Sumber || http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=142654

10. DIANTARA KIAT MERAIH IKHLAS DAN MENGHINDARI UJUB

✍🏻 Al-Imam adz-Dzahaby rahimahullah berkata:

ينبغي للعالم أن يتكلم بنية وحسن قصد، فإن أعجبه كلامه فاليصمت، فإن أعجبه الصمت فلينطق، ولا يفتر عن محاسبة نفسه فإنها تحب الظهور والثناء.

“Sepantasnya bagi seorang ulama untuk berbicara dengan niat dan tujuan yang baik. Lalu jika dia merasa kagum dengan ucapannya maka hendaklah dia diam, namun jika dia merasa kagum dengan dengan diamnya maka hendaklah dia berbicara. Dan dia jangan merasa bosan untuk introspeksi diri, karena tabiat jiwanya adalah mencintai popularitas dan sanjungan.”

📚 Siyar A’lamin Nubala’, jilid 4 hal. 494

11. MENGINGKARI KEZHALIMAN PEMERINTAH DENGAN PEMBERONTAKAN PANGKAL SEMUA KEBURUKAN HINGGA AKHIR ZAMAN

✍🏻 Al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata:

وهذا كالإنكار على الملوك والولاة بالخروج عليهم، فإنه أساس كل شر وفتنة إلى آخر الدهر.

“Dan ini (pengingkaran yang salah) seperti pengingkaran terhadap para raja dan para penguasa dengan cara melakukan pemberontakan kepada mereka, karena sesungguhnya hal itu merupakan pangkal semua keburukan dan fitnah hingga akhir zaman.”

📚 I’lamul Muwaqqi’in, jilid 3 hlm. 430

12. NIKMAT ALLAH YANG TERBESAR BAGI SEORANG HAMBA

✍🏻 Al-Imam Ibnu Hazm rahimahullah berkata:

أفضل نِعم الله تعالى على المرء أن يطبعه على العدل وحبه، وعلى الحق وإيثاره.

“Nikmat Allah Ta’ala yang paling afdhal bagi seseorang adalah dengan menjadikan tabiatnya adil dan mencintainya, serta mencari kebenaran dan mengutamakannya.”

📚 Mudawatun Nufus, hlm. 90

13. JANGAN SEKALI-KALI MENILAI SESUATU DENGAN PERASAAN TANPA DIDASARI ILMU DAN PIKIRAN YANG JERNIH!

✍🏻 Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata:

فالعاطفة إن لم تكن مبنية على العقل والشرع صارت عاصفة، تعصف بك وتطيح بك في الهاوية.

“Perasaan jika tidak dibangun di atas akal dan syari’at, maka dia akan menjadi badai besar yang akan menyeret dan menjatuhkan dirimu ke jurang kebinasaan yang sangat dalam.”

📚 Majmu’ul Fatawa, jilid 25 hlm. 532

14. BERDO’ALAH KALIAN KEPADA ALLAH, NISCAYA ALLAH KABULKAN

✍🏻 Umar bin al-Khaththab—semoga Allah meridhainya—berkata;

“Barang siapa diberi kemudahan berdoa, (doanya) akan dikabulkan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman;

“Berdoalah kalian niscaya Aku kabulkan.” (Ghafir: 60)

Barang siapa diberi kemudahan bersyukur, niscaya akan ditambah kenikmatannya, berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala;

“Jika kalian mau bersyukur, niscaya Aku tambah kenikmatan yang Aku berikan kepada kalian.” (Ibrahim: 7)

Barang siapa diberi kemudahan untuk meminta ampun kepada Allah subhanahu wa ta’ala, niscaya Allah mengampuninya, berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala;

“Mintalah kalian ampun kepada Allah subhanahu wa ta’ala, sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (al-Muzzammil: 20).
(al-Bayan wat Tabyin, 3/288)