Bersedekahlah

๐Ÿ’ฐ๐Ÿ’ณ๐Ÿ’Ž Bersedekahlah

๐Ÿ“ Sudah menjadi kecenderungannya, manusia amat mencintai materi atau harta yang menjadi miliknya. Di saat lapang saja ia demikian, terlebih lagi di saat sempit.

โ˜๐Ÿป๏ธPadahal Islam senantiasa menganjurkan umatnya untuk bersedekah di saat sulit sekalipun.

โšช๏ธAllah Subhanahuwata’ala berfirman:

โ€œPerumpamaan nafkah yang dikeluarkan oleh orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan ganjaran bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas karunia-Nya lagi Maha Mengetahui.โ€

(Al-Baqarah: 261)

โ€œOrang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan siang hari secara sembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapatkan pahala di sisi Rabb mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.โ€

(Al-Baqarah: 274)

๐ŸŒพKeutamaan bersedekah sudah kita maklumi. Karena keutamaannya yang besar, syariat yang mulia ini banyak mendorong kita untuk mengeluarkan sedekah. Dorongan tersebut tidak hanya ditujukan kepada lelaki namun juga kepada kaum perempuan.

๐Ÿ”˜Allah Subhanahuwata’ala berfirman dalam kitab-Nya yang agung:

โ€œSesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang jujur, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuโ€™, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut nama Allah (berdzikir), Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.โ€

(Al-Ahzab: 35)

๐Ÿ“šDalam surah lain, Allah Subhanahuwata’ala berfirman:

โ€œSesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan serta meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipatgandakan (pembayarannya) kepada mereka dan mereka akan beroleh pahala yang banyak.โ€

(Al-Hadid: 18)

๐ŸนRasul Shalallahu’alaihi wa sallam yang mulia pun turut memberi dorongan kepada para wanita untuk bersedekah, sebagaimana dalam hadits Ibnu โ€˜Abbas radhiyallahuanhuma.

๐Ÿ”Š Ia bertutur:

ุฃูŽู†ูŽู‘ ุงู„ู†ูŽู‘ุจููŠูŽู‘ ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุงู„ู’ููุทู’ุฑู ุฑูŽูƒู’ุนูŽุชูŽูŠู’ู†ู ู„ูŽู…ู’ ูŠูุตูŽู„ูู‘ ู‚ูŽุจู’ู„ูŽู‡ูŽุง ูˆูŽู„ุงูŽ ุจูŽุนู’ุฏูŽู‡ูŽุงุŒ ุซูู…ูŽู‘ ุฃูŽุชูŽู‰ ุงู„ู†ูู‘ุณูŽุงุกูŽ ูˆูŽู…ูŽุนูŽู‡ู ุจูู„ุงูŽู„ูŒุŒ ููŽุฃูŽู…ูŽุฑูŽู‡ูู†ูŽู‘ ุจูุงู„ุตูŽู‘ุฏูŽู‚ูŽุฉู ููŽุฌูŽุนูŽู„ู’ู†ูŽ ูŠูู„ู’ู‚ููŠู’ู†ูŽุŒ ุชูู„ู’ู‚ููŠ ุงู„ู’ู…ูŽุฑู’ุฃูŽุฉู ุฎูุฑู’ุตูŽู‡ูŽุง ูˆูŽุณูุฎูŽุงุจูŽู‡ูŽุง

โ€œNabi Shalallahu’alaihi wa sallam shalat pada hari Idul Fithri dua rakaat dan tidak shalat sebelum maupun sesudahnya. Kemudian (setelah menyampaikan khutbah kepada hadirin) beliau mendatangi tempat para wanita sementara Bilal menyertai beliau. Beliau memerintahkan mereka untuk bersedekah. Maka mulailah mereka melemparkan perhiasan mereka (ke kain yang dibentangkan Bilal untuk menampung sedekah), ada wanita yang melemparkan anting-anting dan kalungnya.โ€

(HR. Al-Bukhari no. 964 dan Muslim no. 2054)

โœ…Asma` bintu Abi Bakr radhiyallahunha berkata:

ู‚ูู„ู’ุชู: ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู’ู„ูŽ ุงู„ู„ู‡ูุŒ ู…ูŽุงู„ููŠ ู…ูŽุงู„ูŒ ุฅูู„ุงูŽู‘ ู…ูŽุง ุฃูŽุฏู’ุฎูŽู„ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠูŽู‘ ุงู„ุฒูู‘ุจูŽูŠู’ุฑูุŒ ููŽุฃูŽุชูŽุตูŽุฏูŽู‘ู‚ูุŸ ู‚ูŽุงู„ูŽ: ุชูŽุตูŽุฏูŽู‘ู‚ููŠ ูˆูŽู„ุงูŽ ุชููˆู’ุนููŠ ููŽูŠููˆู’ุนูŽู‰ ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒู

โ€œAku berkata: โ€˜Wahai Rasulullah, aku tidak memiliki harta kecuali apa yang dimasukkan Az-Zubair kepadaku. Apakah boleh aku menyedekahkannya?โ€™ Beliau bersabda: โ€˜Bersedekahlah. Jangan engkau kumpul-kumpulkan hartamu dalam wadah dan enggan memberikan infak, niscaya Allah akan menyempitkan rizkimuโ€™.โ€

(HR. Al-Bukhari no. 2590 dan Muslim no. 2375)

๐ŸšSampaipun seorang wanita tidak memiliki kelebihan harta ataupun makanan, kecuali sedikit, Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam tetap memberikan dorongan baginya untuk bersedekah dan tidak menahannya, terutama kepada tetangganya.

๐Ÿ–‹Abu Hurairah radhiyallahuanhu menyampaikan bahwa Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam bersabda:

ูŠูŽุง ู†ูุณูŽุงุกูŽ ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ูŽุงุชูุŒ ู„ุงูŽ ุชูŽุญู’ู‚ูุฑูŽู†ูŽู‘ ุฌูŽุงุฑูŽุฉูŒ ู„ูุฌูŽุงุฑูŽุชูู‡ูŽุง ูˆูŽู„ูŽูˆู’ ููุฑู’ุณูู†ูŽ ุดูŽุงุฉู

โ€œWahai wanita-wanita muslimah! Janganlah seorang tetangga meremehkan untuk memberikan sedekah kepada tetangganya, walaupun hanya sepotong kaki kambing.โ€

(HR. Al-Bukhari no. 6017 dan Muslim no. 2376)

๐ŸŽ“Al-Imam An-Nawawi rahimahullah menerangkan, โ€œJanganlah seorang wanita menahan untuk memberi sedekah dan hadiah kepada tetangganya, karena kekurangannya yang ada pada dirinya dan ia meremehkan apa yang hendak diberikannya. Namun hendaknya ia bersifat dermawan, memberi apa yang mudah baginya untuk diberikan walaupun hanya sedikit, seperti sepotong kaki kambing. Itu lebih baik daripada tidak memberi sama sekali. Allah Subhanahuwata’ala telah berfirman:

โ€œSiapa yang beramal kebaikan walaupun hanya seberat semut yang sangat kecil niscaya ia akan melihat balasannya.โ€

(Az-Zalzalah: 7)

โ˜„Nabi Shalallahu’alaihi wa sallam bersabda:

ุงุชูŽู‘ู‚ููˆู’ุง ุงู„ู†ูŽู‘ุงุฑูŽ ูˆูŽู„ูŽูˆู’ ุจูุดูู‚ูู‘ ุชูŽู…ู’ุฑูŽุฉู

โ€œTakutlah kalian kepada api neraka walaupun (untuk menjaga diri dari neraka tersebut) kalian hanya dapat bersedekah dengan sepotong belahan kurma (1).โ€ (Al-Minhaj, 7/121)

๐Ÿ”ฅ๐Ÿ’ฅKetika Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam menyebutkan bahwa kaum wanita paling banyak menjadi penghuni neraka, beliau Shalallahu’alaihi wa sallam memerintahkan mereka untuk banyak-banyak bersedekah. Sebagaimana pengabaran Abu Saโ€™id Al-Khudri radhiyallahuanhu berikut ini,
โ€œDalam satu hari raya, Idul Adha atau Idul Fithri, Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam keluar menuju mushalla (tanah lapang). Beliau melewati para wanita, maka beliau bersabda:

ูŠูŽุง ู…ูŽุนู’ุดูŽุฑูŽ ุงู„ู†ูู‘ุณูŽุงุกู ุชูŽุตูŽุฏูŽู‘ู‚ู’ู†ูŽุŒ ููŽุฅูู†ูู‘ูŠ ุฃูุฑููŠู’ุชููƒูู†ูŽู‘ ุฃูŽูƒู’ุซูŽุฑูŽ ุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ู†ูŽู‘ุงุฑู

โ€œWahai sekalian kaum wanita, bersedekahlah. Karena diperlihatkan kepadaku mayoritas penduduk neraka adalah kalian.โ€

(HR. Al-Bukhari no. 304)

๐Ÿ’Kaum wanita diperintah bersedekah karena mayoritas mereka penghuni neraka. Dengan demikian, sedekah yang mereka keluarkan dapat menolak adzab api neraka dari mereka dengan izin Allah Subhanahuwata’ala, selain juga dengan banyak beristighfar, sebagaimana tambahan dalam riwayat Muslim dari hadits Ibnu โ€˜Umar radhiyallahuanhuma:

ูŠูŽุง ู…ูŽุนู’ุดูŽุฑูŽ ุงู„ู†ูู‘ุณูŽุงุกู ุชูŽุตูŽุฏูŽู‘ู‚ู’ู†ูŽ ูˆูŽุฃูŽูƒู’ุซูุฑู’ู†ูŽ ุงู„ู’ุงูุณู’ุชูุบู’ููŽุฑูŽุŒ ููŽุฅูู†ูู‘ูŠ ุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชููƒูู†ูŽู‘ ุฃูŽูƒู’ุซูŽุฑูŽ ุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ู†ูŽู‘ุงุฑู

โ€œWahai sekalian kaum wanita, bersedekahlah dan perbanyaklah istighfar (meminta ampun). karena aku melihat mayoritas penduduk neraka adalah kalian.โ€

(HR. Muslim no. 238)

๐ŸŽฏBoleh Bersedekah kepada Suami dan Anak
Sedekah yang utama adalah yang diberikan kepada kerabat terdekat. Karenanya, seorang wanita boleh memberikan sedekah kepada suaminya, bahkan mengeluarkan zakatnya untuk suaminya, bila memang suami termasuk orang yang berhak memperolehnya, dari kalangan orang-orang yang tersebut dalam firman-Nya:

โ€œSesungguhnya sedekah (zakat) itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk memerdekakan budak, orang-orang yang terlilit hutang, untuk fi sabilillah, dan ibnu sabil (musafir)โ€ฆ.โ€

(At-Taubah: 60)

๐ŸŽจIni merupakan pendapat jumhur ulama, sebagaimana dinukilkan oleh Al-Imam Ash-Shanโ€™ani rahimahullah dalam Subulus Salam (4/67).
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-โ€™Asqalani rahimahullah berkata, โ€œUlama berdalil dengan hadits ini (hadits Zainab Ats-Tsaqafiyyah radhiyallahuanha yang akan disebutkan setelah ini, pent.) untuk membolehkan seorang wanita memberikan zakatnya kepada suaminya. Ini merupakan pendapat Al-Imam Asy-Syafiโ€™i, Ats-Tsauri, dua murid Abu Hanifah, dan salah satu dari dua riwayat Al-Imam Malik dan Al-Imam Ahmad.โ€

(Fathul Bari, 3/415)

๐Ÿ“Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah menyatakan, โ€œSecara zahir, boleh bagi istri menyerahkan zakatnya kepada suaminya. Pertama, karena tidak ada larangan dalam hal ini. Dan siapa yang mengatakan tidak boleh, hendaklah ia mendatangkan dalil. Kedua (dalam hadits Zainab Ats-Tsaqafiyyah radhiyallahuanha, pent.) Nabi Shalallahu’alaihi wa sallam tidak minta perincian (2).

๐ŸŒพBerarti, sedekah di sini keberadaannya umum (mencakup yang sunnah dan yang wajib). Tatkala beliau tidak meminta perincian tentang sedekah tersebut apakah sifatnya sunnah ataukah wajib, seakan-akan beliau menyatakan (kepada Zainab), โ€˜Boleh bagimu memberikan sedekah kepada suamimu, sama saja baik sedekah yang fardhu (yaitu zakat, pent.) atau yang sunnahโ€™.โ€

(Nailul Authar, 4/224)

๐Ÿ’Zainab Ats-Tsaqafiyyah, istri Abdullah bin Masโ€™ud radhiyallahuanhu, pernah minta izin menemui Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam . Ketika disebutkan nama Zainab di hadapan Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam , beliau bertanya:

ุฃูŽูŠูู‘ ุงู„ุฒูŽู‘ูŠุงูŽู†ูุจูุŸ ููŽู‚ููŠู’ู„ูŽ: ุงู…ู’ุฑูŽุฃูŽุฉู ุงุจู’ู†ู ู…ูŽุณู’ุนููˆู’ุฏู. ู‚ูŽุงู„ูŽ: ู†ูŽุนูŽู…ู’ุŒ ุงุฆู’ุฐู†ููˆุง ู„ูŽู‡ูŽุง. ููŽุฃูุฐูู†ูŽ ู„ูŽู‡ูŽุงุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽุชู’: ูŠูŽุง ู†ูŽุจููŠูŽู‘ ุงู„ู„ู‡ูุŒ ุฅูู†ูŽู‘ูƒูŽ ุฃูŽู…ูŽุฑู’ุชูŽ ุงู„ู’ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุจูุงู„ุตูŽู‘ุฏูŽู‚ูŽุฉูุŒ ูˆูŽูƒูŽุงู†ูŽ ุนูู†ู’ุฏููŠ ุญูู„ูู‘ูŠูŒ ู„ููŠุŒ ููŽุฃูŽุฑูŽุฏู’ุชู ุฃูŽู†ู’ ุฃูŽุชูŽุตูŽุฏูŽู‘ู‚ูŽ ุจูู‡ูŽุงุŒ ููŽุฒูŽุนูŽู…ูŽ ุงุจู’ู†ู ู…ูŽุณู’ุนููˆู’ุฏู ุฃูŽู†ูŽู‘ู‡ู ูˆูŽูˆูŽู„ูŽุฏูŽู‡ู ุฃูŽุญูŽู‚ูู‘ ู…ูŽู†ู’ ุชูŽุตูŽุฏูŽู‘ู‚ู’ุชู ุจูู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู’. ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู†ูŽู‘ุจููŠูู‘ n: ุตูŽุฏูŽู‚ูŽ ุงุจู’ู†ู ู…ูŽุณู’ุนููˆู’ุฏูุŒ ุฒูŽูˆู’ุฌููƒู ูˆูŽูˆูŽู„ูŽุฏููƒู ุฃูŽุญูŽู‚ูู‘ ู…ูŽู†ู’ ุชูŽุตูŽุฏูŽู‘ู‚ู’ุชู ุจูู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู‡ูู…ู’

โ€œZainab yang mana?โ€ Dijawab, โ€œIstri Ibnu Masโ€™ud.โ€ Beliau berkata, โ€œIya, izinkan dia masuk.โ€ Maka diizinkanlah Zainab, ia bertanya, โ€œWahai Nabiyullah! Engkau hari ini memerintahkan kami bersedekah. Aku memiliki perhiasan, aku ingin menyedekahkannya. Namun Ibnu Masโ€™ud menganggap bahwa dirinya dan anaknya adalah orang yang paling pantas memperoleh sedekahku itu.โ€
โ›ต๏ธNabi Shalallahu’alaihi wa sallam bersabda, โ€œBenar kata Ibnu Masโ€™ud, suami dan anakmu adalah orang yang paling pantas mendapatkan sedekahmu tersebut.โ€

(HR. Al-Bukhari no. 1462)

โœˆ๏ธ Dalam riwayat lain disebutkan, Zainab Ats-Tsaqafiyyah radhiyallahuanha berkata:

ูƒูู†ู’ุชู ูููŠ ุงู„ู’ู…ูŽุณู’ุฌูุฏู ููŽุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชู ุงู„ู†ูŽู‘ุจููŠูŽู‘ ุŒ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ: ุชูŽุตูŽุฏูŽู‘ู‚ู’ู†ูŽ ูˆูŽู„ูŽูˆู’ ู…ูู†ู’ ุญูู„ููŠูู‘ูƒูู†ูŽู‘. ูˆูŽูƒูŽุงู†ุชู’ ุฒูŽูŠู’ู†ูŽุจู ุชูู†ู’ููู‚ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽุฃูŽูŠู’ุชูŽุงู…ู ูููŠ ุญูุฌู’ุฑูู‡ูŽุง. ููŽู‚ูŽุงู„ูŽุชู’ ู„ูุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู„ู‡ู: ุณูŽู„ู’ ุฑูŽุณููˆู’ู„ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุŒ ุฃูŽูŠูŽุฌู’ุฒููŠ ุนูŽู†ูู‘ูŠ ุฃูŽู†ู’ ุฃูู†ู’ููู‚ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูŽ ูˆูŽุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽูŠู’ุชูŽุงู…ููŠ ูููŠ ุญูุฌู’ุฑููŠู’ ู…ูู†ูŽ ุงู„ุตูŽู‘ุฏูŽู‚ูŽุฉูุŸ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ: ุณูŽู„ููŠ ุฃูŽู†ู’ุชู ุฑูŽุณููˆู’ู„ูŽ ุงู„ู„ู‡ู n. ููŽุงู†ู’ุทูŽู„ูŽู‚ู’ุชู ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู†ูŽู‘ุจููŠูู‘ ููŽูˆูŽุฌูŽุฏู’ุชู ุงู…ู’ุฑูŽุฃูŽุฉู‹ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ุฃูŽู†ู’ุตูŽุงุฑู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ุจูŽุงุจูุŒ ุญูŽุงุฌูŽุชูู‡ูŽุง ู…ูุซู’ู„ู ุญูŽุงุฌูŽุชููŠู’. ููŽู…ูŽุฑูŽู‘ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู†ูŽุง ุจูู„ุงูŽู„ูŒุŒ ููŽู‚ูู„ู’ู†ูŽุง: ุณูŽู„ู ุงู„ู†ูŽู‘ุจููŠูŽู‘ n ุฃูŽูŠูŽุฌู’ุฒููŠ ุนูŽู†ูู‘ูŠ ุฃูŽู†ู’ ุฃูู†ู’ููู‚ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฒูŽูˆู’ุฌููŠ ูˆูŽุฃูŽูŠู’ุชุงูŽู…ู ู„ููŠ ูููŠ ุญูุฌู’ุฑููŠ. ูˆูŽู‚ูู„ู’ู†ูŽุง: ู„ุงูŽ ุชูุฎู’ุจูุฑู’ ุจูู†ูŽุง. ููŽุฏูŽุฎูŽู„ูŽ ููŽุณูŽุฃูŽู„ูŽู‡ูุŒ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ: ู…ูŽู†ู’ ู‡ูู…ูŽุงุŸ ู‚ูŽุงู„ูŽ: ุฒูŽูŠู’ู†ูŽุจู. ู‚ูŽุงู„ูŽ: ุฃูŽูŠูู‘ ุงู„ุฒูŽู‘ูŠุงูŽู†ูุจูุŸ ู‚ูŽุงู„ูŽ: ุงู…ู’ุฑูŽุฃูŽุฉู ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู„ู‡ู. ู‚ูŽุงู„ูŽ: ู†ูŽุนูŽู…ู’ุŒ ูˆูŽู„ูŽู‡ูŽุง ุฃูŽุฌู’ุฑู ุงู„ู’ู‚ูŽุฑูŽุงุจูŽุฉู ูˆูŽุฃูŽุฌู’ุฑู ุงู„ุตูŽู‘ุฏูŽู‚ูŽุฉู

โ€œAku pernah berada dalam masjid, ketika itu aku melihat Nabi Shalallahu’alaihi wa sallam bersabda, โ€˜Bersedekahlah kalian (para wanita) walaupun dengan perhiasan kalian.โ€™ Sementara Zainab biasa memberikan infak kepada Abdullah dan anak-anak yatim yang berada dalam pengasuhannya. Zainab berkata kepada Abdullah, โ€˜Tanyakan kepada Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam , apakah boleh bagiku memberikan infak kepadamu dan kepada anak-anak yatim yang dalam asuhanku?โ€™ Abdullah berkata, โ€˜Kamu saja yang bertanya kepada Rasulullah.โ€™ Aku pun pergi ke tempat Nabi Shalallahu’alaihi wa sallam . Di depan pintu aku menjumpai seorang wanita dari kalangan Anshar, keperluannya (permasalahannya) sama dengan keperluanku. Ketika itu Bilal melewati kami, maka kami pun memanggilnya dan meminta kepadanya, โ€˜Tanyakan kepada Nabi Shalallahu’alaihi wa sallam , apakah boleh bagiku memberikan infak kepada suamiku dan kepada anak-anak yatimku yang dalam asuhanku?โ€™ Kami juga berpesan, โ€˜Jangan engkau beritahu kepada Nabi siapa kami berdua.โ€™ Bilal pun masuk ke tempat Nabi dan bertanya kepada beliau. Setelahnya Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam bertanya, โ€˜Siapa dua wanita yang bertanya itu?โ€™ Bilal menjawab, โ€˜Zainab.โ€™ โ€˜Zainab yang mana?โ€™ tanya Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam . Bilal menjawab, โ€˜Istri Abdullah.โ€™ โ€˜Iya, boleh dan ia akan mendapatkan pahala karena menyambung hubungan kekerabatan dan pahala sedekahโ€™.โ€

(HR. Al-Bukhari no. 1466 dan Muslim no. 2315)

(1) HR. Al-Bukhari dan Muslim

(2) Ketika ditanya sehubungan dengan masalah Zainab Ats-Tsaqafiyyah radhiyallahuanha, apakah seorang istri boleh memberikan sedekahnya kepada suaminya. Beliau Shalallahu’alaihi wa sallam menyatakan kebolehannya tanpa mempertanyakan apakah sedekah tersebut sedekah yang sunnah atau sedekah yang wajib (zakat).
3 Suaminya yang telah meninggal dunia.

๐Ÿ–Œ Ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah

Sumber : asysyariah.com/bersedekahlah/