ORANG MUKMIN DAN RASA TAKUT KEPADA KEMATIAN

ORANG MUKMIN DAN RASA TAKUT KEPADA KEMATIAN

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah

Pertanyaan:
Seorang wanita yang mengenalkan namanya dengan inisial A. ‘A. dari Riyad menanyakan, apakah orang mukmin harus menghilangkan rasa takut kepada kematian? Jika ia memiliki rasa demikian, apakah itu berarti ia tidak suka bertemu dengan Allah?

Jawaban:
Orang mukmin dan mukminah harus memiliki rasa takut dan mengharap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an, Karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman. Allah Azza wa Jalla berfirman, Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk) Allah Azza wa Jalla berfirman, Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah Allah Azza wa Jalla juga berfirman, Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”. Masih banyak lagi ayat yang lain. Orang mukmin dan mukminah juga tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah atau merasa aman dari azab-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Allah Ta’ala berfirman, Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir Allah Azza wa Jalla juga berfirman, Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.

Setiap kaum Muslimin dan Muslimat harus bersiap-siap untuk menghadapi kematian dan menjauhi hal-hal yang dapat melalaikannya. Hal ini berdasarkan ayat-ayat di atas dan riwayat dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, bahwasanya ia bersabda, “Perbanyaklah kalian mengingat penghancur kenikmatan, yaitu kematian.” dan karena melalaikan dan tidak bersiap-siap menghadapi kematian merupakan salah satu penyebab “Suul Khatimah” (meninggal dalam kemaksiatan). Dalam hal ini terdapat riwayat dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwasanya ia berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
“Barangsiapa senang berjumpa dengan Allah, maka Allah senang berjumpa dengannya. Barangsiapa tidak suka berjumpa dengan Allah, maka Allah tidak suka berjumpa dengannya.” Aku bertanya, “Nabi Allah, apakah maksudnya tidak suka dengan kematian karena kita semua tidak suka dengan kematian?” Lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab, “Bukan itu maksudnya, melainkan orang yang beriman jika diberitahu tentang rahmat, keridaan, dan surga Allah, maka dia suka untuk berjumpa dengan Allah. Sementara itu, orang kafir jika diberitahu tentang siksa dan murka Allah, maka dia tidak suka berjumpa dengan Allah sehingga Allah pun tidak suka berjumpa dengannya.” (Muttafaqun `Alaih). Hadits ini menunjukkan bahwa tidak suka atau takut kepada kematian itu merupakan hal yang wajar dan bukan berarti tidak suka berjumpa dengan Allah karena orang mukmin ketika merasa tidak suka atau takut kepada kematian, maka ia akan lebih meningkatkan ketaatan kepada Allah dan menyiapkan untuk berjumpa dengan-Nya. Demikian pula seorang mukminah ketika merasa tidak suka atau takut kepada kematian, maka ia tidak merasa demikian kecuali semata-mata dengan harapan akan dapat menambah ketaatan kepada Allah dan bersiap untuk berjumpa dengan-Nya.
Seorang muslim boleh memiliki rasa takut kepada sesuatu yang membahayakan, seperti binatang buas dan ular, untuk menghindari binatang tersebut dengan melakukan hal-hal yang dapat melindungi dirinya. Demikian pula kaum Muslimin boleh memiliki rasa takut kepada musuh mereka sehingga mereka dapat menyi-
apkan perlengkapan yang dibenarkan Islam sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian sanggupi. yakni musuh-musuh mereka dengan menyandarkan diri kepada Allah dan meyakini bahwa kemenangan itu semata-mata dari Allah. Namun, ia harus berusaha dan menyiapkannya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan untuk berusaha, bukan hanya sekadar menyandarkan diri kepadanya tanpa usaha, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut”.(9)”Dan Allah tidak menjadikannya (mengirim bala bantuan itu), melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
Hanya saja, rasa takut yang dilarang oleh Allah ialah rasa takut kepada makhluk yang menyebabkan seseorang meninggalkan kewajiban atau melakukan kemaksiatan. Mengenai hal ini, turunlah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, Karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman. Demikian pula rasa takut kepada selain Allah dalam bentuk ibadah kepada selain-Nya dan meyakini bahwa ia mengetahui perkara gaib, mampu mengatur alam, mendatangkan bahaya, dan memberi manfaat tanpa kehendak Allah, seperti yang dilakukan orang-orang musyrik terhadap sesembahan mereka.
Wabillahittaufiq.

Sumber :http://www.binbaz.org.sa/fatawa/303