PETAKA AKHIR ZAMAN

[Forwarded from WarisanSalaf.Com]
โš ๏ธโš ๏ธ๐Ÿ”ฅ PETAKA AKHIR ZAMAN

โœ… Dari Abu Musa al Asy’ari radhiallahu anhu beliau berkata: “Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan kepada kami bahwasanya sebelum terjadinya hari kiamat akan terjadi al-haroj,

๐Ÿ“ Ditanyakan (kepada beliau): “Apa itu al-haroj?

๐Ÿ”Š Beliau menjawab:

ุงู„ู’ูƒูŽุฐูุจู ูˆูŽุงู„ู’ู‚ูŽุชู’ู„ู

๐Ÿ’ข “Dusta dan pembunuhan.

๐Ÿ“ Mereka (sahabat) berkata: “Lebih banyak dari pembunuhan yg terjadi sekarang?

๐Ÿ”Š Beliau menjawab,

ู‚ูŽุงู„ูŽ : ุฅูู†ู‘ูŽู‡ู ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ุจูู‚ูŽุชู’ู„ููƒูู…ู’ ุงู„ู’ูƒููู‘ูŽุงุฑูŽ ุŒ ูˆูŽู„ูŽูƒูู†ู‘ูŽู‡ู ู‚ูŽุชู’ู„ู ุจูŽุนู’ุถููƒูู…ู’ ุจูŽุนู’ุถู‹ุง ุŒ ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ูŠูŽู‚ู’ุชูู„ูŽ ุงู„ุฑู‘ูŽุฌูู„ู ุฌูŽุงุฑูŽู‡ู ุŒ ูˆูŽูŠูŽู‚ู’ุชูู„ูŽ ุฃูŽุฎูŽุงู‡ู ุŒ ูˆูŽูŠูŽู‚ู’ุชูู„ูŽ ุนูŽู…ู‘ูŽู‡ู ุŒ ูˆูŽูŠูŽู‚ู’ุชูู„ูŽ ุงุจู’ู†ูŽ ุนูŽู…ู‘ูู‡ู .

๐Ÿ’ข “Itu bukanlah pembunuhan yg kalian lakukan terhadap orang kafir,

๐Ÿ”ฅ tetapi ia adalah pembunuhan satu dengan yang lain di antara sesama kalian,

๐Ÿ“› Hingga seseorang membunuh tetangganya,
๐Ÿ“› seseorang membunuh saudara kandungnya,
๐Ÿ“› seseorang membunuh pamannya
๐Ÿ“› dan (membunuh) anak pamannya,

๐Ÿ“ Mereka berkata:

๐Ÿ‚ “Subhanallah, padahal bersama kami ada akal-akal kami?

๐Ÿ”Š Beliau berkata:

ู„ูŽุง ุŒ ุฅูู„ู‘ูŽุง ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ูŠูŽู†ู’ุฒูุนู ุนูู‚ููˆู„ูŽ ุฃูŽู‡ู’ู„ู ุฐูŽุงูƒูŽ ุงู„ุฒู‘ูŽู…ูŽุงู†ู ุŒ ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ูŠูŽุญู’ุณูŽุจูŽ ุฃูŽุญูŽุฏููƒูู…ู’ ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุดูŽูŠู’ุกู ูˆูŽู„ูŽูŠู’ุณูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุดูŽูŠู’ุกู

โŒ “Tidak, sesungguhnya dicabut akal-akal (sehat) penduduk zaman tersebut, hingga seseorang di antara kalian menganggap bahwa ia di atas kebenaran, padahal dia tdk berada di atas kebenaran sedikitpun”.
๐ŸŒ Sumber: HR. Ahmad dalam Al Musnad (32/409),dan di shahihkan oleh para muhaqqiq (peneliti,pen) dalam cetakan muassasah Ar Risalah, dan dishahihkan Syaikh al Albani dalam As-Silsilah Ash Shahihah (no:1682)
๐Ÿ“ Diterjemahkan oleh: al Ustadz Abu Ja’far hafizhahullah
โœ… Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu beliau berkata, “Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

ูˆูŽุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ู†ูŽูู’ุณููŠ ุจููŠูŽุฏูู‡ู ุŒ ู„ูŽุง ุชูŽุฐู’ู‡ูŽุจู ุงู„ุฏู‘ูู†ู’ูŠูŽุง ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ูŠูŽุฃู’ุชููŠูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ูŠูŽูˆู’ู…ูŒ ู„ูŽุง ูŠูŽุฏู’ุฑููŠ ุงู„ู’ู‚ูŽุงุชูู„ู ูููŠู…ูŽ ู‚ูŽุชูŽู„ูŽ ุŒ ูˆูŽู„ูŽุง ุงู„ู’ู…ูŽู‚ู’ุชููˆู„ู ูููŠู…ูŽ ู‚ูุชูู„ูŽ ุŒ ููŽู‚ููŠู„ูŽ : ูƒูŽูŠู’ููŽ ูŠูŽูƒููˆู†ู ุฐูŽู„ููƒูŽ ุŸ ู‚ูŽุงู„ูŽ : ุงู„ู’ู‡ูŽุฑู’ุฌู ุŒ ุงู„ู’ู‚ูŽุงุชูู„ู ูˆูŽุงู„ู’ู…ูŽู‚ู’ุชููˆู„ู ูููŠ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุฑู

๐Ÿ”ฅ “Demi Dzat yg jiwaku berada di tangan-Nya, tidak akan hilang dunia (tidak akan terjadi hari kiamat,pen) hingga datang kepada manusia suatu hari (zaman), orang yang membunuh tidak tau karena alasan apa ia membunuh, dan orang yang terbunuh tidak tau karena alasan apa ia di bunuh.

๐Ÿ“ Lalu ditanyakan (kepada beliau), ‘bagaimana bisa terjadi yang demikian?’

๐Ÿ”Š Beliau berkata: ‘al-harju, orang yg membunuh dan yang terbunuh di neraka.’.”
๐ŸŒ Sumber: HR. Muslim (no.2908)
๐Ÿ“ Diterjemahkan oleh: al Ustadz Abu Ja’far hafizhahullah

โš ๏ธ๐Ÿ“›๐Ÿ”ฅ PETAKA AKHIR ZAMAN
โœ… Dari Ziyad bin Labid radhiallahu ‘anhu beliau berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan sesuatu (tentang fitnah,pen), lalu beliau bersabda,

ุฐูŽุงูƒูŽ ุนูู†ู’ุฏูŽ ุฃูŽูˆูŽุงู†ู ุฐู‡ูŽุงุจู ุงู„ู’ุนูู„ู’ู…ู

๐Ÿ’ข ‘Hal tersebut terjadi ketika hilangnya ilmu.’

๐Ÿ“ Aku berkata: ‘wahai rasulullah, bagaimana ilmu itu akan hilang padahal kami membaca al Qur’an dan kami bacakan kepada anak-anak kami, dan anak-anak kami membacakannya kepada anak-anak mereka sampai hari kiamat.?’

๐Ÿ”Š Beliau bersabda:

ุซูŽูƒูู„ูŽุชู’ูƒูŽ ุฃูู…ู‘ููƒูŽ ุฒููŠูŽุงุฏู ุฅูู†ู’ ูƒูู†ู’ุชู ู„ูŽุฃูŽุฑูŽุงูƒูŽ ู…ูู†ู’ ุฃูŽูู’ู‚ูŽู‡ู ุฑูŽุฌูู„ู ุจูุงู„ู’ู…ูŽุฏููŠู†ูŽุฉูุŒ ุฃูŽูˆูŽู„ูŽูŠู’ุณูŽ ู‡ูŽุฐูู‡ู ุงู„ู’ูŠูŽู‡ููˆุฏูุŒ ูˆูŽุงู„ู†ู‘ูŽุตูŽุงุฑูŽู‰ุŒ ูŠูŽู‚ู’ุฑูŽุกููˆู†ูŽ ุงู„ุชู‘ูŽูˆู’ุฑูŽุงุฉูŽุŒ ูˆูŽุงู„ู’ุฅูู†ู’ุฌููŠู„ูŽ ู„ูŽุง ูŠูŽุนู’ู…ูŽู„ููˆู†ูŽ ุจูุดูŽูŠู’ุกู ู…ูู…ู‘ูŽุง ูููŠู‡ูู…ูŽุงุŸ

๐Ÿ”ต “Kasihan ibumu kehilangan dirimu wahai Ziyad, aku memandangmu termasuk orang yang paling faqih dari penduduk madinah, bukankah orang-orang yahudi dan nasrani mereka membaca taurat dan injil, tapi mereka tidak beramal sedikitpun dengan apa yang ada pada keduanya?!”
๐Ÿ”ธ (HR. Ahmad no.17473, dan Ibnu Majah no.4048, hadits ini dishahihkan oleh Asy Syaikh al Albani rahimahullah dalam Shahih Sunan Ibnu Majah)
………………………………..

๐Ÿ“ Asy Syaikh Shalih al Fauzan hafizhahullah berkata,

โœ… “Hadits ini juga menjelaskan bagaimana ilmu itu dicabut, dan bahwasanya ia dicabut:
๐Ÿ‘‰๐Ÿป yg pertama dengan diwafatkannya para ulama,
๐Ÿ‘‰๐Ÿป dan kedua dengan meninggalkan amalan (terhadap ilmu tersebut,pent),

๐Ÿ“• Apabila manusia meninggalkan amalan maka ilmu itu dicabut, karena ilmu itu akan menjadi banyak dan bertambah dan diberkahi bersama dengan adanya amalan,

โš ๏ธ bukan dengan sekadar menghafalnya tanpa mengamalkannya,

โ–ช๏ธ dan di karenakan apabila salah satunya hilang maka yang lainnya juga hilang (yakni jika ilmu hilang, maka hilang pula amalan, dan jika amalan hilang, ilmu pun ikut hilang,pent),

๐Ÿ”Š Dan inilah yg di jelaskan oleh nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ziyad radhiyallahu ‘anhu dalam hadits ini, karena Ziyad ketika berkata kepada nabi:

“bagaimana ilmu itu akan hilang padahal kami membaca alqur’an,dan kami membacakannya kepada anak-anak kami,dan anak-anak kami membacakannya kpd anak-anak mereka sampai hari kiamat?”

โ—๏ธBeliau (Ziyad) radhiyallahu ‘anhu menyangka bahwa sekedar membaca al Quran, mempelajarinya dan menghafalnya akan melanggengkan ilmu,

โ—๏ธ dan beliau tidak tahu bahwa ilmu tidak akan bertahan (tidak akan langgeng) jika tidak diiringi dengan amalan, maka akan hilang barokahnya, cahanya dan bertambahnya dengan sebab meninggalkan amalan dari ilmu tersebut.

๐Ÿ“ก Kemudian nabi menyebutkan permisalan tentang Bani Israil bahwa mereka adalah orang-orang yang memiliki ilmu terhadap Taurat dan Injil. Mereka mempelajarinya dan mengajarkannya, akan tetapi tidak mengamalkannya, maka hilanglah ilmu itu dari mereka, karena kelanggengan ilmu tidak terbatas pada keberadaannya dalam ingatan, akan tetapi kelanggengannya ada pada sisi amalan, dan karena itulah ia turun, dan ilmu itu adalah wasilah (perantara), sedangkan amalan adalah ghayah(tujuan), dan dialah yang dituntut, maka apabila hilang tujuan, maka wasilah tidak berguna.
๐ŸŒ Sumber: Syarhu Ushuli al-Iman Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab (hadits no.123), karya Asy Syaikh Shalih al Fauzan,
๐Ÿ“ Diterjemahkan oleh: al Ustadz Abu Ja’far hafizhahullah

#Fawaidumum #akhirjaman #harikiamat #huruhara
ใ€ฐใ€ฐโžฐใ€ฐใ€ฐ
๐Ÿ’ป Situs Resmi: warisansalaf.com